medis.web.id

Info Medis dan Kesehatan


Inilah 11 Daftar Obat Paling Mahal di Dunia


Kesehatan memang mahal harganya, apalagi kalau sudah terlanjur kena penyakit. Obat-obat yang dijual di pasar pun tidak murah, bahkan ada yang harganya jutaan rupiah, apalagi jika obatnya bukan obat generik. Padahal obat ini ada yang digunakan untuk bertahun-tahun.


Perusahaan farmasi memang mengalokasikan investasi yang teramat mahal untuk menciptakan sebuah obat. Agar dapat balik modal dan meraup banyak keuntungan, tentu perusahaan akan menjual obat produksinya dengan mahal. Tapi ada juga yang harganya bisa dibilang tak manusiawi.

Majalah kenamaan Forbes telah merangkum daftar obat-obatan termahal di dunia, obat-obatan tersebut adalah:

1. Soliris
Soliris dinobatkan Forbes sebagai obat termahal di dunia sebab dihargai US$ 409.500 atau sekitar Rp 4 miliar per tahun. Obat ini digunakan untuk mengobati hemoglobinuria nokturnal paroksismal, penyakit darah langka yang mempengaruhi 8.000 orang di AS.

Mahalnya harga ini disebabkan karena investasi yang dilakukan produsen, Alexion Pharmaceuticals, senilai US$ 800 juta atau sekitar Rp 7,73 triliun dan masa penelitian selama 15 tahun. Hasilnya, studi menemukan Soliris dapat mengurangi 90 persen komplikasi hemoglobinuria nokturnal paroksismal.

 2. Elaprase
Obat ini digunakan untuk mengobati sindrom Hunter, yaitu penyakit bawaan yang disebabkan oleh kurangnya enzim sulfatase iduronate. Tapi obat ini harus ditebus dengan harga mahal, yaitu US$ 375.000 atau sekitar Rp 3,6 miliar hingga US$ 657.000 atau sekitar Rp 6,35 miliar per tahun.

Untuk pembelian satu botol saja dihargai US$ 4.215 atau sekitar Rp 41 juta. Di Amerika Serikat, diperkirakan ada sekitar 500 orang yang menderita sindrom Hunter dan menghabiskan uang total senilai US$ 353 juta atau sekitar Rp 3,4 triliun pada tahun 2009 untuk membeli Elaprase.

3. Naglazyme
Naglazyme dibanderol dengan harga US$ 365.000 atau sekitar Rp 3,5 miliar. Obat ini merupakan pemurnian dari enzim manusia yang digunakan untuk mengobati sindrom Maroteaux-Lamy, penyakit genetik langka yang muncul di masa kanak-kanak lewat retardasi mental dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan serta keterbelakangan mental. Pemberian obat ini dapat meningkatkan pertumbuhan dan pergerakan sendi, serta mengatasi rasa nyeri.

4. Cinryze
Obat ini digunakan untuk mengatasi angioedema herediter, yaitu pembengkakan parah yang sering terjadi di wajah dan saluran udara akibat rendahnya protein inhibitor C1. Penyakit ini adalah penyakit turunan dan seringkali tidak terdeteksi.

Karena penyakitnya langka, maka obatnya juga mahal, yaitu US$ 350.000 atau sekitar Rp 3,38 miliar per tahun. Sang produsen, ViroPharma, berhasil membukukan penjualan tahunan obat mulai dari US$ 95 juta atau sekitar Rp 918 miliar hingga US$ 350 juta atau sekitar Rp 3,38 triliun.

6. ACTH
Obat ini digunakan untuk mengobati kejang infantil, yaitu kejang-kejang yang sering dialami bayi berusia 4 - 6 bulan. Suntikan ACTH diberikan setiap hari selama beberapa minggu sampai beberapa bulan.

Biaya yang harus dikeluarkan adalah US$ 115 ribu atau sekitar Rp 1,1 miliar per bulan. Per botol, obat ini dibanderol seharga US$ 23.000 atau sekitar Rp 222 juta.

7. Myozyme
Obat ini dikembangkan oleh perusahaan bernama Genzyme untuk mengobati penyakit langka yang disebut Pompe, yaitu penyakit yang menonaktifkan otot-otot jantung dan rangka. Penyakit ini sering mempengaruhi bayi dan sebagian besar penderitanya meninggal setahun pertama.

Untuk mendapat obat ini, biaya per tahun yang harus dikeluarkan bisa mencapai US$ 100.000 atau sekitar Rp 966 juta untuk anak-anak dan US$ 300.000 atau Rp 2,9 miliar untuk dewasa. Walau mahal, obat ini terbukti dapat menyelamatkan banyak nyawa pasien Pompe.

8. Arcalyst
Arcalyst digunakan untuk mengobati penyakit genetik langka seperti Familial Cold Auto-inflammatory Syndrome dan Muckle-Wells Syndrome, gangguan inflamasi yang menyebabkan tubuh menampakkan gejala aneh tanpa diketahui penyebabnya. Penyakit ini dapat mempengaruhi tulang, sendi dan organ-organ penting sehingga menyebabkan tuli, kerusakan ginjal dan kebutaan. Untuk mendapatkan obat ini, pasien harus merogoh kocek sampai US$ 250.000 atau sekitar Rp 2,4 miliar per tahun.

9. Ceredase / Cerezyme
Penderita penyakit Gaucher, yaitu penyakit yang menyebabkan benjolan lemak muncul di berbagai tempat di tubuh, termasuk jantung, otak dan limpa bisa terobati dengan obat ini. Ceredase dibuat dari plasenta manusia. Harganya tidak murah, yaitu US$ 150.000 atau sekitar Rp 1,44 miliar per tahun. Versi terbarunya yang dibuat dari rekayasa genetika sel hamster diharapkan lebih murah, tapi ternyata jatuhnya lebih mahal, yaitu US$ 200.000 atau sekitar Rp 1,93 miliar per tahun.

10. Fabrazyme
Fabrazyme berfungsi mengganti enzim yang diperlukan penderita penyakit Fabry, yaitu penyakit akibat kurangnya enzim yang diperlukan untuk metabolisme lipid atau lemak. Tanpa enzim ini, lemak dapat terkumpul hingga tingkat berbahaya dalam sistem saraf, jantung, pembuluh darah, mata dan ginjal. Akibatnya dapat menyebabkan kekeruhan kornea, peningkatan risiko serangan jantung dan stroke, serta pembesaran jantung dan gangguan ginjal. Fabrazyme dapat diperoleh dengan biaya US$ 200.000 atau sekitar Rp 1,93 miliar per tahun.

11. Aldurazyme
Aldurazyme digunakan untuk mengobati penyakit genetik bernama sindrom Hurler, yaitu gangguan metabolisme akibat kekurangan enzim yang membuat tubuh menghambat metabolisme gula dan protein tertentu. Gula dan protein yang rusak akan berkumpul dan menyebabkan organ membesar, gangguan pernapasan dan banyak lagi. Obat ini dihargai US$ 200.000 atau sekitar Rp 1,93 miliar per tahun. Aldurazyme biasanya diberikan secara mingguan.

sumber: detik.com
1 Komentar untuk "Inilah 11 Daftar Obat Paling Mahal di Dunia"

apabila obat paten (original) ditemukan harganya mahal, itu adalah hal yang wajar dikarenakan masa paten dibatasi hanya dalam beberapa tahun saja. sehingga dalam masa paten tersebut industri farmasi penemu obat mempunyai waktu untuk mengembalikan biaya-biaya yang telah dikeluarkan selama mengembangkan obat tersebut serta kesempatan untuk mengambil keuntungan yang cukup di masa tersebut.
akan tetapi jika ditemukan obat tiruan alias me too ditemukan mahal, maka itu adalah hal yang banyak dipengarui karena bisnis.

perbedaan obat paten dengan me too sangatlah banyak meskipun memiliki kandungan obat yang sama. jadi salah besar jika obat paten diganti peresepannya dengan obat me too sekalipun obat tesebut sama kandungan. ini sangat mempengaruhi efektivitas pengobatan suatu penyakit.

perlu diketahui bahwa bioavailabilitas dan bioequivalen kedua obat tersebut sangatlah berbeda. di indonesia saya belum pernah menemukan obat me too yang mempunyai nilai BA/BE yang menyerupai obat patennya.

tapi inilah bisnis, strategi selalu digencarkan agar setiap industri farmasi dapat grow setiap tahunnya. saya sering kasihan melihat pasien yang sangat banyak mendapat polifarmasi dari peresepannya. namun dibalik itu juga, tetap ada dokter yang selalu mengutamakan kebutuhan pasien dan mengesampingkan kebutuhan pribadinya.

Download Ebook Gratis